Sabtu, 24 Okt 2026 Gaya HidupHukum & KriminalNasionalPolitikEkonomi
Breaking
Beranda › Gaya Hidup
Gaya Hidup

Biaya Hidup Meningkat, Hanya 28,2% Orang Tua di Jepang Ingin Punya Anak Kedua

✍️ Mita Kurniasari 🕒 21 Oct 2026 👁️ 4x dibaca
Ilustrasi bayi Jepang.
Ilustrasi bayi Jepang. Foto: Dok. Freepik

BankPedia.id - Tekanan biaya hidup dan kekhawatiran terhadap pendapatan masa depan membuat semakin banyak keluarga di Jepang ragu menambah anak. Survei Meiji Yasuda Life menunjukkan hanya 28,2% orang tua yang memiliki satu anak ingin memiliki anak kedua pada 2026. Angka tersebut turun lebih dari separuh dibandingkan 56,9% pada 2020.

Survei yang digelar pada September 2026 itu melibatkan orang tua dengan satu anak berusia 0–6 tahun. Proporsi tersebut menjadi yang terendah sejak survei serupa dimulai pada 2018.

Di antara responden yang tidak ingin atau merasa kesulitan memiliki anak kedua, kekhawatiran ekonomi menjadi hambatan utama. Sebanyak 54,5% menyebut kecemasan mengenai pendapatan pada masa depan, meningkat 9 poin persentase dibandingkan survei tahun sebelumnya.

Temuan ini mencerminkan tekanan yang dihadapi keluarga di tengah persoalan demografi Jepang. Data Kementerian Kesehatan Jepang mencatat jumlah kelahiran pada 2025 mencapai 671.236, turun 2,2% dari tahun sebelumnya sekaligus menjadi rekor terendah selama 10 tahun berturut-turut. Meski masih menurun, laju penurunan itu lebih lambat dibandingkan penurunan sekitar 5% pada beberapa tahun sebelumnya.

Selain biaya hidup, pemerintah Jepang juga menyoroti sejumlah faktor lain yang berkaitan dengan rendahnya angka kelahiran, termasuk pendapatan yang rendah, kesulitan menemukan pasangan, serta tantangan menyeimbangkan pekerjaan dengan pengasuhan anak.

Keinginan Punya Anak Kedua Turun Tajam

Penurunan proporsi orang tua yang ingin memiliki anak kedua menunjukkan semakin besarnya keraguan keluarga dalam merencanakan penambahan anggota keluarga. Dalam enam tahun, angkanya menyusut dari 56,9% pada 2020 menjadi 28,2% pada 2026.

Meski demikian, keinginan untuk memiliki anak kedua belum sepenuhnya hilang. Sebanyak 66,4% responden menyatakan masih dapat mempertimbangkan menambah anak apabila kondisi ekonomi mereka membaik.

Dari kelompok tersebut, 60,4% menilai kenaikan pendapatan gabungan pasangan dapat mengubah keputusan mereka. Sementara itu, 22,9% berharap tekanan kenaikan harga mereda.

Situasi ini menunjukkan bahwa keputusan memiliki anak tidak hanya berkaitan dengan keinginan pribadi, tetapi juga kemampuan rumah tangga memenuhi kebutuhan keluarga dalam jangka panjang.

Data inflasi konsumen yang disebutkan dalam laporan ini menunjukkan kenaikan harga di Jepang mencapai 1,9% secara tahunan pada Agustus 2026. Namun, inflasi yang melambat tidak serta-merta membuat biaya hidup kembali murah karena rumah tangga tetap harus menghadapi harga kebutuhan yang telah meningkat.

Mengutip The Japan Times, Gubernur Bank of Japan Kazuo Ueda mengatakan: "Inflasi yang mendasarinya saat ini sudah berada di kisaran 2%, dan kami tidak bisa membiarkannya meningkat lebih jauh ke depannya."

Sementara itu, Reuters melaporkan pada Oktober bahwa kenaikan biaya energi dan pelemahan yen kembali menimbulkan risiko tekanan harga bagi rumah tangga Jepang.

Bagi orang tua yang mempertimbangkan anak kedua, ketidakpastian pendapatan dan kemampuan membayar kebutuhan pengasuhan menjadi pertimbangan penting. Kekhawatiran tersebut semakin terasa ketika pengeluaran sehari-hari terus menyerap anggaran keluarga.

Biaya Membesarkan Anak Capai Rekor Tertinggi

Beban finansial keluarga juga terlihat dari meningkatnya pengeluaran untuk membesarkan anak. Menurut perhitungan Meiji Yasuda Life, rata-rata biaya membesarkan anak di Jepang mencapai ¥43.356 per bulan per anak, atau sekitar Rp4,93 juta dengan asumsi kurs ¥1 setara Rp113,70. Nilai tersebut merupakan yang tertinggi dalam survei.

Pengeluaran itu mencakup berbagai kebutuhan, seperti makanan, kegiatan ekstrakurikuler, dan penitipan anak. Untuk menyesuaikan anggaran, sebagian orang tua bahkan mengurangi pengeluaran untuk rekreasi dan perjalanan.

Ekonom Meiji Yasuda Life, Kazutaka Maeda, menilai persoalannya bukan semata-mata hilangnya keinginan untuk memiliki anak kedua, melainkan kesulitan mewujudkan keinginan tersebut dalam kondisi ekonomi saat ini. Menurutnya, terdapat kesenjangan antara rencana keluarga dan kemampuan mereka untuk merealisasikannya.

Maeda menyarankan agar lingkungan yang mendukung keluarga diperkuat untuk mengurangi hambatan memiliki anak kedua. Dukungan tersebut antara lain memungkinkan saudara kandung bersekolah atau dititipkan di fasilitas penitipan anak yang sama, serta menyediakan pengaturan kerja yang lebih fleksibel, termasuk bekerja dari rumah.

Hasil survei tersebut memperlihatkan bahwa upaya mendorong angka kelahiran tidak hanya berkaitan dengan keinginan masyarakat untuk memiliki anak. Kepastian pendapatan, keterjangkauan biaya pengasuhan, dan dukungan dalam menyeimbangkan pekerjaan serta kehidupan keluarga juga menjadi faktor yang dapat memengaruhi keputusan orang tua.

MK
💬

Diskusi

Bagikan pendapat Anda
0 komentar

Lengkapi data kamu

Sekali isi untuk bisa berkomentar.

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Artikel Terkait

News Update