Inflasi Naik dan Rupiah Melemah, BI Tahan Suku Bunga Acuan di Level 5,75 Persen
bankpedia.id - Bank Indonesia (BI) memutuskan untuk mempertahankan suku bunga acuan (BI Rate) di level 5,75 persen. Keputusan ini diambil di tengah kian terbatasnya ruang pelonggaran kebijakan moneter akibat melonjaknya inflasi domestik serta kuatnya tekanan eksternal dari penguatan dolar Amerika Serikat dan kenaikan harga minyak dunia di atas US$90 per barel.
Tekanan terhadap mata uang Garuda tercatat cukup signifikan pada Senin (28/9/2026). Data Bloomberg menunjukkan rupiah terkoreksi 0,42 persen atau 75 poin ke posisi Rp17.978 per dolar AS. Sementara itu, berdasarkan kurs Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia, rupiah berada di level Rp17.965 per dolar AS.
Presiden Komisaris HFX International Berjangka, Sutopo Widodo, menjelaskan bahwa tren kenaikan inflasi di dalam negeri menjadi penghalang utama bagi bank sentral untuk melonggarkan kebijakan moneter.
"Dari dalam negeri, BI menahan BI Rate di 5,75%, tetapi ruang pelonggaran menyempit karena inflasi Agustus naik ke 3,19% dari 2,88%." kata Sutopo Widodo.
Selain faktor domestik, Sutopo menyoroti sentimen global yang terus membayangi pergerakan nilai tukar.
"Indeks dolar melayang dekat level tertinggi dua bulan, didukung kenaikan harga minyak yang memperkuat ekspektasi pengetatan lanjutan The Fed dan risiko geopolitik." tambah Sutopo.
Untuk meredam gejolak lebih lanjut, langkah intervensi Bank Indonesia di pasar spot, Non-Delivery Forward (NDF), serta Domestic Non-Delivery Forward (DNDF) diharapkan mampu menahan tekanan terhadap rupiah. Posisi cadangan devisa Indonesia yang berada di kisaran US$146,5 miliar juga dipandang sebagai benteng pertahanan krusial dalam menjaga stabilitas moneter.
Sutopo memperkirakan pergerakan pasar ke depan akan sangat dipengaruhi oleh rilis data ekonomi nasional maupun global, termasuk data perdagangan Agustus, inflasi September, serta kinerjanya indeks manufaktur Indonesia. Untuk perdagangan Selasa (29/9/2026), rupiah diproyeksikan bergerak fluktuatif dengan kecenderungan melemah pada rentang Rp17.900 hingga Rp17.950 per dolar AS.
