Sabtu, 24 Okt 2026 Gaya HidupHukum & KriminalNasionalPolitikEkonomi
Breaking
Beranda › Politik
Politik

Menlu Arrmanatha di Depan Guterres: Multilateralisme Bukan Sekadar Hadir di Meja Perundingan

✍️ Mita Kurniasari 🕒 19 Oct 2026 👁️ 1x dibaca
Menteri Luar Negeri Arrmanatha C. Nasir saat menyampaikan pidato di hadapan Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) Antonio Guterres di Kementerian Luar Negeri, Jakarta, Senin (19/10/2026).
Menteri Luar Negeri Arrmanatha C. Nasir saat menyampaikan pidato di hadapan Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) Antonio Guterres di Kementerian Luar Negeri, Jakarta, Senin (19/10/2026). Foto: ANTARA/Nabil

BankPedia.id - Indonesia menegaskan komitmennya memperkuat sistem multilateral lewat dua langkah sekaligus: mencalonkan diri sebagai anggota tidak tetap Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa (DK PBB) dan mengusung Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin sebagai kandidat Direktur Jenderal Organisasi Kesehatan Dunia (WHO).

Penegasan itu disampaikan Menteri Luar Negeri Arrmanatha C. Nasir dalam pidatonya di hadapan Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres di Kementerian Luar Negeri, Jakarta, Senin.

“Sebagai pembentuk jembatan, penjaga perdamaian, dan penghubung berbagai pihak, peran-peran ini bukan sekadar gelar. Semuanya merupakan tanggung jawab untuk membangun kepercayaan dan mewujudkan sistem multilateral yang lebih kuat dan efektif,” kata Menlu Arrmanatha.

Politik Luar Negeri Bebas Aktif

Arrmanatha menyatakan bahwa politik luar negeri bebas aktif memberi Indonesia ruang untuk menentukan sikap secara mandiri, sekaligus terlibat aktif dalam kerja sama dan kontribusi internasional.

Ia berpendapat Indonesia yang kuat dan tangguh mampu menyumbang lebih banyak bagi perdamaian dan kesejahteraan dunia, melampaui batas wilayah nasional.

Indonesia yang tangguh akan turut mewujudkan dunia yang lebih tangguh. Dunia yang tangguh, pada gilirannya, akan menjadikan Indonesia semakin kuat, ucapnya.

“Semangat inilah yang kami bawa ke Perserikatan Bangsa-Bangsa. Kami hadir bukan sekadar untuk berpartisipasi, melainkan untuk membawa gagasan, mengerahkan sumber daya manusia, dan menawarkan solusi,” kata Arrmanatha.

Rekam Jejak Indonesia di PBB

Arrmanatha lalu menguraikan sejumlah kontribusi Indonesia di PBB. Pasukan penjaga perdamaian Indonesia sudah bertugas di bawah bendera biru PBB sejak 1957. Di bidang hukum internasional, Indonesia ikut memperjuangkan pengakuan prinsip negara kepulauan, termasuk lewat perkembangan hukum laut internasional dan Konvensi PBB tentang Hukum Laut (UNCLOS).

Indonesia juga telah empat kali duduk sebagai anggota tidak tetap DK PBB dan terlibat dalam berbagai mekanisme PBB, termasuk Komisi Pembangunan Perdamaian. Saat ini, Indonesia bertugas di Dewan Auditor PBB dan memegang jabatan Presiden Dewan Hak Asasi Manusia PBB.

Kontribusi, Bukan Sekadar Kehadiran

Menurut Arrmanatha, keterlibatan Indonesia dalam sistem multilateral harus diwujudkan lewat sumbangan nyata, bukan hanya hadir di forum internasional.

“Bagi Indonesia, multilateralisme bukan sekadar tentang memiliki tempat di meja perundingan. Multilateralisme adalah tentang kontribusi yang dapat kita bawa ke meja tersebut. Dan kami tidak akan memperlambat langkah,” tegas Arrmanatha.

MK
💬

Diskusi

Bagikan pendapat Anda
0 komentar

Lengkapi data kamu

Sekali isi untuk bisa berkomentar.

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Artikel Terkait

News Update