Sabtu, 24 Okt 2026 Gaya HidupHukum & KriminalNasionalPolitikEkonomi
Breaking
Beranda › Ekonomi
Ekonomi

Rupiah Anjlok ke Rp17.978, Kenaikan Inflasi Batasi Ruang BI Pemangkasan Suku Bunga

✍️ Mita Kurniasari 🕒 28 Sep 2026 👁️ 6x dibaca
Rupiah Anjlok ke Rp17.978, Kenaikan Inflasi Batasi Ruang BI Pemangkasan Suku Bunga
Rupiah Anjlok ke Rp17.978, Kenaikan Inflasi Batasi Ruang BI Pemangkasan Suku Bunga Foto: Istimewa

bankpedia.com - Laju mata uang rupiah terus mengalami tekanan hingga menyentuh level Rp17.978 per dolar AS pada penutupan perdagangan Senin (28/9/2026). Berdasarkan data Bloomberg, nilai tukar rupiah terkoreksi 0,42 persen atau berkurang 75 poin. Sementara itu, acuan Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia mencatat rupiah berada di posisi Rp17.965 per dolar AS atau melemah 0,27 persen.

Pelemahan ini terjadi bersamaan dengan makin sempitnya ruang bagi Bank Indonesia (BI) untuk melonggarkan kebijakan moneter. Meskipun BI saat ini mempertahankan suku bunga acuan (BI Rate) di level 5,75 persen, tren kenaikan inflasi domestik pada Agustus menjadi penahan utama langkah pemangkasan suku bunga ke depan.

Presiden Komisaris HFX International Berjangka, Sutopo Widodo, mengungkapkan bahwa lonjakan inflasi domestik menjadi faktor penentu yang membatasi fleksibilitas kebijakan BI.

“Dari dalam negeri, BI menahan BI Rate di 5,75%, tetapi ruang pelonggaran menyempit karena inflasi Agustus naik ke 3,19% dari 2,88%,” kata Sutopo kepada Kontan, Senin (28/9/2026).

Selain kendala inflasi domestik, pasar keuangan nasional juga menghadapi hantaman dari faktor eksternal. Indeks dolar AS (DXY) terus menguat mendekati level tertinggi dalam dua bulan terakhir. Pada saat bersamaan, harga minyak dunia bertahan di atas level US$90 per barel yang memicu kekhawatiran atas berlanjutnya tren pengetatan suku bunga oleh bank sentral AS (The Fed).

“Indeks dolar melayang dekat level tertinggi dua bulan, didukung kenaikan harga minyak yang memperkuat ekspektasi pengetatan lanjutan The Fed dan risiko geopolitik,” ujar Sutopo.

Untuk meredam gejolak mata uang lebih lanjut, Bank Indonesia mengandalkan langkah intervensi pasar secara aktif melalui pasar spot, Non-Delivery Forward (NDF), hingga Domestic Non-Delivery Forward (DNDF). Posisi cadangan devisa Indonesia yang terjaga di kisaran US$146,5 miliar dipandang menjadi benteng pertahanan krusial bagi stabilitas nilai tukar.

Pergerakan pasar selanjutnya diproyeksikan sangat bergantung pada rilis data ekonomi riil, antara lain data neraca perdagangan Agustus, rilis inflasi September, serta indeks aktivitas manufaktur Indonesia. Pada perdagangan Selasa (29/9/2026), rupiah diperkirakan masih bergerak fluktuatif dengan kecenderungan melemah pada rentang Rp17.900 hingga Rp17.950 per dolar AS.

MK
💬

Diskusi

Bagikan pendapat Anda
0 komentar

Lengkapi data kamu

Sekali isi untuk bisa berkomentar.

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Artikel Terkait

News Update