Rupiah Ditutup Melemah ke Rp18.027 per Dolar AS, Ini Penyebabnya
BankPedia.id – Rupiah mengakhiri perdagangan Jumat (16/10/2026) di zona merah. Mata uang Garuda turun 89 poin atau 0,50 persen ke level Rp18.027 per dolar AS, dari posisi penutupan sebelumnya di Rp17.938 per dolar AS. Pelemahan ini terutama dipicu kekhawatiran bahwa suku bunga Amerika Serikat (AS) akan bertahan tinggi lebih lama.
Research and Development Indonesia Commodity & Derivatives Exchange (ICDX), Muhammad Amru Syifa, menjelaskan inflasi AS pada September 2026 naik menjadi 3,7 persen secara tahunan dari 3,4 persen pada Agustus. Data itu membuat pasar terus mencermati arah kebijakan suku bunga Federal Reserve.
“Jika suku bunga AS bertahan tinggi lebih lama, dolar AS berpotensi tetap kuat dan menekan mata uang negara berkembang, termasuk rupiah,” ucapnya kepada ANTARA di Jakarta, Jumat.
Geopolitik Timur Tengah dan Isu MSCI
Selain faktor suku bunga, ketidakpastian geopolitik di Timur Tengah turut menjadi sorotan. Situasi tersebut berpotensi mengerek harga minyak dunia dan menambah kebutuhan devisa Indonesia untuk impor energi.
Dari sisi domestik, pasar mencermati pengumuman Morgan Stanley Capital International (MSCI) soal usulan perubahan status pasar saham Indonesia dari pasar berkembang menjadi pasar yang berdiri sendiri. Menurut Amru, perkembangan ini berpotensi memengaruhi persepsi investor terhadap pasar keuangan Indonesia dan mendorong penyesuaian portofolio investasi asing. Meski begitu, dampaknya terhadap rupiah belum bisa dipastikan secara langsung dan harus dilihat bersama faktor lain, termasuk pergerakan dolar AS dan kebutuhan valuta asing di dalam negeri.
Fundamental Domestik Masih Menopang
Sejumlah indikator menunjukkan fundamental ekonomi dalam negeri masih punya penopang. Bank Indonesia mencatat utang luar negeri Indonesia pada Agustus 2026 sebesar 459,3 miliar dolar AS, tumbuh 5,6 persen secara tahunan. Aliran masuk ke Surat Berharga Negara (SBN) ikut mendukung pembiayaan pemerintah. Penjualan eceran Agustus tumbuh 1,3 persen secara tahunan dan diperkirakan naik menjadi 1,4 persen pada September.
Amru menilai data tersebut menunjukkan aktivitas ekonomi domestik masih terjaga, tetapi belum cukup untuk mengimbangi tekanan eksternal terhadap rupiah.
“Ke depan, pergerakan rupiah akan dipengaruhi oleh arah dolar AS, ekspektasi kebijakan The Fed, perkembangan geopolitik, serta dinamika arus modal asing. Perkembangan faktor-faktor tersebut akan menjadi perhatian pasar dalam menentukan arah rupiah selanjutnya,” ujar dia.
Sementara itu, kurs Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia pada hari ini melemah ke Rp18.052 per dolar AS dari sebelumnya Rp17.948 per dolar AS.
