Rabu, 04 Nov 2026 Gaya HidupHukum & KriminalNasionalPolitikEkonomi
Breaking
Beranda › Ekonomi
Ekonomi

KSSK Pastikan Stabilitas Keuangan Terjaga, Ekonomi Indonesia Diproyeksi Tumbuh 5,5 Persen

✍️ Mita Kurniasari 🕒 04 Nov 2026 👁️ 2x dibaca
KSSK Sebut Stabilitas Keuangan Terjaga, Ekonomi Indonesia Diproyeksi Tumbuh 5,5 Persen
KSSK Sebut Stabilitas Keuangan Terjaga, Ekonomi Indonesia Diproyeksi Tumbuh 5,5 Persen Foto: CNBC Indonesia/Muhammad Sabki

BankPedia.id - Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) menyatakan stabilitas sistem keuangan Indonesia tetap terjaga sepanjang kuartal III-2026. Di tengah tekanan pasar global dan dinamika domestik, pertumbuhan ekonomi nasional diperkirakan berada pada kisaran 5,4–5,5 persen hingga akhir tahun ini.

Menteri Keuangan Suahasil Nazara mengatakan, ketahanan sistem keuangan ditopang koordinasi kebijakan antara otoritas fiskal, moneter, dan sektor keuangan. Sinergi tersebut dinilai penting untuk menjaga stabilitas sekaligus mempertahankan momentum pertumbuhan ekonomi.

Namun, tekanan eksternal kembali meningkat pada Oktober 2026. Konflik geopolitik, kenaikan harga energi dunia, serta kebijakan moneter ketat di sejumlah negara maju turut memengaruhi pasar keuangan internasional.

Dari dalam negeri, pengumuman MSCI mengenai kondisi pasar saham Indonesia dan tekanan terhadap nilai tukar rupiah juga mendorong arus modal keluar, terutama dari pasar saham.

"KSSK yang terdiri atas Menteri Keuangan, Gubernur Bank Indonesia, Ketua DK OJK, dan Ketua DK LPS akan terus mencermati dan melakukan asesmen yang bersifat forward looking terhadap perkembangan ekonomi dan sektor keuangan. Kami akan terus memperkuat kerja sama dengan semua pemangku kepentingan untuk mengantisipasi dampak rambatan risiko global," ujar Suahasil dalam konferensi pers KSSK di Jakarta, Selasa (3/11/2026).

Di tengah berbagai tekanan tersebut, permintaan domestik masih menjadi penopang perekonomian. Konsumsi masyarakat, investasi, belanja pemerintah, dan ekspor dinilai berperan dalam menjaga aktivitas ekonomi.

Pemerintah juga memanfaatkan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) sebagai peredam guncangan ekonomi atau shock absorber. Instrumen yang digunakan mencakup subsidi, kompensasi, bantuan sosial, stabilisasi harga pangan, hingga program penciptaan lapangan kerja.

Sejumlah indikator menunjukkan aktivitas ekonomi masih menguat. Penjualan mobil pada September 2026 tumbuh 28,1 persen secara tahunan (year-on-year/yoy), sedangkan penjualan sepeda motor meningkat 15,4 persen yoy.

Sektor manufaktur juga mencatatkan perbaikan. Purchasing Managers' Index (PMI) Manufaktur Indonesia naik dari 52 pada September menjadi 54 pada Oktober 2026.

Indikator tersebut menjadi salah satu landasan proyeksi pemerintah bahwa ekonomi Indonesia dapat tumbuh 5,4–5,5 persen sepanjang 2026.

"Untuk mempertahankan momentum pertumbuhan, penguatan sinergi kebijakan pemerintah dan BI, serta kolaborasi pemerintah dan Danantara melalui pendekatan two arms of the state, terus diperkuat untuk menjaga stabilitas dan mendorong pertumbuhan bernilai tambah tinggi," jelas Suahasil.

Realisasi APBN hingga Kuartal III-2026

Dari sisi fiskal, pendapatan dan belanja negara hingga akhir kuartal III-2026 sama-sama mencatatkan pertumbuhan. Anggaran tersebut digunakan untuk menopang aktivitas ekonomi dan membiayai berbagai program pembangunan nasional.

Suahasil menyebutkan, pendapatan negara telah mencapai Rp2.341,5 triliun atau meningkat 25,5 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Sementara itu, belanja negara terealisasi sebesar Rp2.660,5 triliun, tumbuh 19 persen secara tahunan.

Adapun pembiayaan anggaran hingga akhir kuartal III-2026 tercatat Rp462 triliun atau meningkat 0,4 persen yoy.

Pemerintah, kata Suahasil, mengelola pembiayaan secara hati-hati dan terukur dengan memperhatikan kondisi likuiditas. Langkah tersebut ditujukan untuk menjaga kredibilitas dan akuntabilitas pengelolaan keuangan negara.

Selain pembiayaan melalui utang, pemerintah turut mengoptimalkan pembiayaan investasi untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat dan mempercepat pembangunan di berbagai sektor.

"Pengelolaan pembiayaan juga didukung oleh pembiayaan investasi yang dikelola untuk perbaikan kesejahteraan masyarakat dalam mendukung akselerasi pangan, pertanian, perumahan, pendidikan, dan infrastruktur," pungkas Suahasil.

MK
💬

Diskusi

Bagikan pendapat Anda
0 komentar

Lengkapi data kamu

Sekali isi untuk bisa berkomentar.

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Artikel Terkait

News Update