Biaya Hidup Anak Muda Makin Berat, Bukan Sekadar Masalah Gaya Hidup
BankPedia.id - Tekanan biaya hidup yang dihadapi generasi muda belakangan ini memicu perdebatan di media sosial. Sebagian pihak menilai anak muda seharusnya mengurangi gaya hidup, bekerja lebih keras, dan mengendalikan pengeluaran, alih-alih menuntut pemerintah menurunkan biaya hidup. Namun, memandang persoalan tersebut semata-mata sebagai akibat gaya hidup berisiko mengabaikan persoalan struktural yang turut memengaruhi kondisi ekonomi mereka.
Pendapatan, kualitas lapangan kerja, inflasi, keterjangkauan kebutuhan pokok, perlindungan sosial, hingga tanggung jawab keluarga merupakan sejumlah faktor yang membentuk kemampuan seseorang memenuhi kebutuhan hidup. Karena itu, kesulitan ekonomi yang dialami anak muda tidak dapat dijelaskan hanya melalui keputusan finansial pribadi.
Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan rata-rata upah buruh meningkat dari sekitar Rp3,27 juta per bulan pada Agustus 2024 menjadi Rp3,33 juta pada Agustus 2025. Kenaikan tersebut sekitar 1,94 persen, lebih rendah dibandingkan inflasi tahunan pada Agustus 2025 yang tercatat sebesar 2,31 persen.
Perbandingan itu menunjukkan bahwa kenaikan upah nominal belum tentu diikuti peningkatan daya beli apabila pertumbuhan pendapatan tidak mampu mengimbangi kenaikan harga barang dan jasa.
Bagi pekerja muda, penghasilan bulanan harus dialokasikan untuk berbagai kebutuhan, seperti makanan, transportasi, tempat tinggal, komunikasi, dan kesehatan. Sebagian juga menanggung biaya pendidikan adik atau membantu memenuhi kebutuhan orang tua. Akibatnya, pendapatan yang terlihat cukup secara nominal belum tentu menyisakan ruang untuk menabung, meningkatkan keterampilan, atau mempersiapkan masa depan.
Tekanan keuangan dan penggunaan layanan pinjaman
Gambaran tekanan ekonomi kelompok muda juga terlihat dalam survei Muda Bicara ID pada Oktober 2026. Sebanyak 40,9 persen responden muda menyatakan pendapatan atau uang saku mereka tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan dasar.
Survei yang sama mencatat 61,5 persen responden pernah menggunakan pinjaman digital atau layanan paylater dalam enam bulan terakhir. Sebagian besar responden menggunakannya untuk memenuhi kebutuhan pokok.
Temuan tersebut mengindikasikan bahwa sebagian anak muda menghadapi keterbatasan keuangan yang lebih mendasar daripada sekadar persoalan konsumsi. Ketika pendapatan tidak mencukupi kebutuhan sehari-hari, layanan pinjaman dapat menjadi pilihan untuk menutup kekurangan, meskipun penggunaannya juga berpotensi menambah beban keuangan jika tidak dikelola secara hati-hati.
Tekanan itu semakin besar bagi mereka yang menjadi bagian dari sandwich generation, yaitu kelompok yang harus menanggung kebutuhan generasi di atasnya sekaligus memenuhi kebutuhan sendiri dan, dalam sejumlah kasus, membiayai anak-anaknya.
Dalam situasi tersebut, penghasilan tidak sepenuhnya dapat digunakan untuk kebutuhan pribadi. Sebagian pendapatan telah dialokasikan untuk membantu keluarga, sehingga kemampuan menabung, mengembangkan keterampilan, atau membangun kemandirian finansial menjadi lebih terbatas.
Tanggung jawab pribadi dan persoalan struktural
Mengakui adanya persoalan struktural bukan berarti menghilangkan tanggung jawab individu dalam mengelola keuangan. Generasi muda tetap perlu menyusun anggaran, membedakan kebutuhan dan keinginan, berhati-hati menggunakan pinjaman, serta meningkatkan keterampilan untuk memperluas peluang kerja.
Namun, tanggung jawab pribadi tidak seharusnya dijadikan alasan untuk mengabaikan peran pemerintah dalam menciptakan kondisi ekonomi yang memungkinkan masyarakat memenuhi kebutuhan hidup secara layak.
Upaya mengatasi tekanan biaya hidup perlu mencakup perluasan kesempatan kerja berkualitas, penguatan perlindungan bagi pekerja informal, serta peningkatan akses terhadap transportasi umum, hunian layak, pendidikan, dan layanan kesehatan.
Dunia usaha juga memiliki peran dalam menyediakan upah yang layak dan lingkungan kerja yang sehat. Dengan demikian, upaya memperbaiki kondisi ekonomi generasi muda membutuhkan keterlibatan berbagai pihak, bukan hanya perubahan perilaku konsumsi individu.
Keluhan anak muda sebagai masukan kebijakan
Keluhan generasi muda mengenai mahalnya biaya hidup semestinya dipandang sebagai masukan bagi penyusunan kebijakan publik. Mendengarkan aspirasi mereka dapat membantu pemerintah mengenali hambatan yang dihadapi masyarakat sebelum menentukan langkah penanganan.
Ruang dialog antara pemerintah dan generasi muda juga perlu diperluas agar persoalan yang mereka alami dapat dibahas secara terbuka dan substantif.
Perdebatan mengenai gaya hidup, etos kerja, dan kemampuan mengelola keuangan pribadi berisiko mengalihkan perhatian dari persoalan yang lebih mendasar, seperti kecukupan upah, kualitas lapangan kerja, keterjangkauan kebutuhan pokok, dan terbatasnya perlindungan sosial.
Karena itu, persoalan biaya hidup generasi muda perlu direspons melalui pendekatan yang seimbang. Pengelolaan keuangan yang bijak tetap penting, tetapi harus berjalan beriringan dengan kebijakan yang memperluas kesempatan ekonomi dan meningkatkan keterjangkauan kebutuhan dasar.
Pada akhirnya, tuntutan agar biaya hidup lebih terjangkau tidak semestinya langsung disederhanakan sebagai persoalan gaya hidup. Evaluasi terhadap kondisi ekonomi dan kebijakan publik diperlukan agar solusi yang diambil benar-benar menjawab tantangan yang dihadapi generasi muda.
