Jumat, 30 Okt 2026 Gaya HidupHukum & KriminalNasionalPolitikEkonomi
Breaking
Beranda › Politik
Politik

Esthon Foenay Tekankan Pentingnya Integritas Calon dan Pendidikan Pemilih di NTT

✍️ Mita Kurniasari 🕒 27 Oct 2026 👁️ 2x dibaca
Esthon Foenay Tekankan Pentingnya Integritas Calon dan Pendidikan Pemilih di NTT
Esthon Foenay Tekankan Pentingnya Integritas Calon dan Pendidikan Pemilih di NTT Foto: Istimewa

BankPedia.id - Anggota Komisi II DPR RI sekaligus Ketua DPD Partai Gerindra Nusa Tenggara Timur (NTT), Ir. Esthon L. Foenay, M.Si., mengajak generasi muda menjadi pemilih cerdas dengan mempertimbangkan visi dan misi, identitas, serta integritas calon pemimpin sebelum menentukan pilihan dalam pemilihan umum (pemilu).

Ajakan tersebut disampaikan Esthon saat menjadi pemateri dalam kegiatan Sosialisasi Pendidikan Pemilih Tahun 2026 yang diselenggarakan Komisi Pemilihan Umum (KPU) Provinsi NTT di Hotel Harper, Kota Kupang, Senin (26/10/2026).

Esthon menegaskan, pendidikan pemilih perlu dilakukan secara berkelanjutan untuk meningkatkan kesadaran masyarakat dalam menggunakan hak politik secara bertanggung jawab. Menurutnya, kualitas demokrasi tidak hanya ditentukan oleh penyelenggara pemilu, tetapi juga oleh pemahaman masyarakat dalam memilih pemimpin.

Ia menjelaskan bahwa hak memilih merupakan wujud kedaulatan rakyat yang harus digunakan secara bijaksana. Karena itu, masyarakat, terutama pemilih pemula dan generasi milenial, perlu memahami hak, kewajiban, serta tanggung jawabnya dalam proses demokrasi.

Esthon Dorong Partisipasi Pemilih dan Tertib Administrasi Kependudukan

Dalam pemaparannya, Esthon turut menyoroti pentingnya meningkatkan partisipasi masyarakat dalam pemilu. Ia mengingatkan bahwa masih ada warga yang belum menggunakan hak pilih karena berbagai kendala, termasuk persoalan administrasi kependudukan.

Salah satu hal yang menjadi perhatian adalah pemilih pemula yang belum memiliki KTP elektronik. Menurut Esthon, persoalan tersebut perlu ditangani agar warga yang memenuhi persyaratan dapat menggunakan hak pilih sesuai ketentuan yang berlaku.

Ia juga mengingatkan bahwa masyarakat memiliki hak untuk memilih presiden dan wakil presiden, kepala daerah, serta anggota lembaga legislatif, termasuk DPR dan DPD, sesuai dengan jenis pemilihan yang diselenggarakan.

Oleh karena itu, pendidikan pemilih tidak cukup hanya mendorong masyarakat datang ke tempat pemungutan suara. Masyarakat juga perlu memahami latar belakang calon, rekam jejak, serta program kerja yang ditawarkan sebelum menentukan pilihan.

Esthon Ingatkan Bahaya Politik Uang, Isu SARA, dan Hoaks

Esthon secara khusus mengingatkan masyarakat agar tidak mudah terpengaruh praktik politik uang, isu suku, agama, ras, dan antargolongan (SARA), serta penyebaran informasi bohong atau hoaks.

Menurutnya, politik uang dapat merusak kualitas demokrasi karena pilihan masyarakat berisiko ditentukan oleh imbalan sesaat, bukan berdasarkan kapasitas, integritas, dan program kerja calon pemimpin.

“Pemilih cerdas harus mengenal visi dan misi calon pemimpin, identitas, serta integritasnya. Jangan sampai pilihan kita ditentukan oleh politik uang, isu SARA, dan hoaks,” demikian pesan Esthon dalam pemaparannya.

Ia menilai pemilih pemula dan generasi milenial perlu memiliki kemampuan memilah informasi politik secara kritis, terutama di tengah derasnya arus informasi melalui media sosial.

Rekam jejak, visi dan misi, serta program kerja calon pemimpin, lanjutnya, harus menjadi bahan pertimbangan utama masyarakat. Praktik politik uang juga tidak boleh dianggap sebagai sesuatu yang wajar dalam penyelenggaraan demokrasi.

Karena itu, pendidikan politik perlu dilakukan secara berkelanjutan agar masyarakat semakin memahami pentingnya menggunakan hak pilih secara bebas, sadar, dan bertanggung jawab.

Perbedaan Pilihan Politik Tak Boleh Memecah Persaudaraan

Kegiatan sosialisasi tersebut turut menghadirkan Ana Juana, jurnalis perempuan senior di Kota Kupang, sebagai pemateri. Kegiatan ini menjadi bagian dari upaya KPU Provinsi NTT memberikan pemahaman kepada masyarakat mengenai hak politik, partisipasi pemilih, dan pentingnya menjaga kualitas demokrasi.

Dalam kesempatan itu, Esthon mengingatkan bahwa perbedaan pilihan politik tidak boleh menjadi penyebab perpecahan di tengah masyarakat.

Dengan gaya penyampaian santai yang diselingi humor, politikus senior NTT tersebut menekankan bahwa persaingan merupakan bagian dari proses demokrasi, tetapi hubungan persaudaraan harus tetap dijaga.

“Dalam politik kita berkompetisi, tetapi dalam Tuhan dan masyarakat kita basudara,” menjadi pesan penutup Esthon yang menekankan pentingnya menjaga persaudaraan di tengah perbedaan pilihan politik.

Melalui Sosialisasi Pendidikan Pemilih Tahun 2026, KPU Provinsi NTT diharapkan dapat meningkatkan pemahaman pemilih pemula dan generasi milenial mengenai hak suara serta tanggung jawab mereka dalam kehidupan demokrasi.

Kegiatan tersebut diharapkan mendorong masyarakat menggunakan hak pilih secara sadar dan bertanggung jawab, menolak politik uang, serta tidak mudah terpengaruh informasi menyesatkan maupun isu yang berpotensi memecah belah persatuan.

MK
💬

Diskusi

Bagikan pendapat Anda
0 komentar

Lengkapi data kamu

Sekali isi untuk bisa berkomentar.

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Artikel Terkait

News Update