Sabtu, 24 Okt 2026 Gaya HidupHukum & KriminalNasionalPolitikEkonomi
Breaking
Beranda › Gaya Hidup
Gaya Hidup

Inflasi 3,28 Persen dan Rupiah Rp18.000: Langkah Praktis Mengelola Keuangan Keluarga

✍️ Mita Kurniasari 🕒 22 Oct 2026 👁️ 3x dibaca
Ilustrasi Keluarga
Ilustrasi Keluarga Foto: Istimewa

BankPedia.id - Di tengah inflasi, pelemahan rupiah, dan gejolak pasar saham, keluarga Indonesia dituntut menjaga ketahanan keuangan dengan langkah yang bisa dilakukan sejak sekarang: memeriksa arus kas, menyiapkan dana darurat, mengendalikan utang, dan tidak mengambil keputusan investasi karena panik. Perspektif Islam menyebut upaya ini sebagai ikhtiar menjaga harta secara amanah.

Tekanan Ekonomi Kian Terasa

Data Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat inflasi September 2026 sebesar 3,28 persen secara tahunan, dengan inflasi pangan bergejolak 5,03 persen. Rata-rata upah buruh pada Mei 2026 tercatat Rp3,39 juta per bulan. Angka rata-rata ini tidak mewakili setiap pekerja, tetapi menunjukkan bahwa daya tahan menghadapi kenaikan biaya hidup bergantung pada pendapatan dan struktur pengeluaran tiap rumah tangga.

Dari pasar keuangan, rupiah berada di kisaran Rp18.000 per dolar AS pada 20 Oktober 2026, sedangkan IHSG bergejolak tajam pada pertengahan Oktober. Pelemahan rupiah dapat menambah tekanan biaya barang impor dan produksi, sementara gejolak pasar memengaruhi nilai portofolio investor. Tidak semua orang merasakan dampaknya secara langsung, namun kebutuhan keluarga dan tagihan tetap berjalan.

Mulai dari Arus Kas Rumah Tangga

Saat harga naik, anggaran lama bisa tak lagi cukup. Langkah pertama adalah memeriksa arus kas, bukan buru-buru mencari investasi berimbal hasil tinggi. Petakan pengeluaran pangan, tempat tinggal, transportasi, pendidikan, kesehatan, dan cicilan. Pisahkan kebutuhan yang tidak bisa ditunda dari keinginan yang masih bisa dikurangi, dan cermati pengeluaran kecil yang berulang karena akumulasinya bisa besar.

Prinsip ini sejalan dengan QS. Al-Furqan [25]: 67 tentang keseimbangan dalam membelanjakan harta, tidak berlebihan dan tidak kikir. Beralih ke produk yang lebih terjangkau boleh dilakukan selama tidak mengorbankan kualitas pangan, kesehatan, atau kebutuhan penting keluarga.

Dana Darurat sebagai Bantalan

Tanpa cadangan, kehilangan pekerjaan atau turunnya pendapatan bisa memaksa keluarga berutang atau menjual aset di waktu yang tidak menguntungkan. Target umum dana darurat adalah tiga hingga enam kali pengeluaran esensial bulanan, dengan penyesuaian bagi keluarga bertanggungan besar, bersumber pendapatan tunggal, atau berpekerjaan tidak stabil.

Jika kebutuhan esensial Rp4 juta per bulan, targetnya sekitar Rp12-24 juta. Angka ini tidak harus dicapai sekaligus; mulai dari jumlah realistis lalu naikkan bertahap. Simpan terpisah dari rekening belanja harian pada instrumen likuid berisiko rendah. Menurut perspektif Islam, menyiapkan cadangan adalah bagian dari ikhtiar melindungi keluarga, sebagaimana semangat QS. An-Nisa [4]: 9 tentang kesejahteraan generasi yang ditinggalkan.

Waspadai Utang Konsumtif

Menambah utang untuk menutup kekurangan bulanan hanya memindahkan masalah ke masa depan. Periksa kembali cicilan dan biaya pembiayaan, tahan utang konsumtif, prioritaskan kewajiban, dan komunikasikan kesulitan kepada pemberi pembiayaan sejak dini. Bila memungkinkan, cari tambahan pendapatan lewat pekerjaan, keterampilan, atau usaha sampingan. Dalam keuangan syariah, pengelolaan kewajiban juga menuntut kejelasan akad dan menghindari riba.

Perlu diingat, tidak semua masalah selesai dengan menekan belanja. Rumah tangga yang pendapatannya belum mencukupi kebutuhan dasar membutuhkan peningkatan penghasilan dan akses dukungan yang tepat. Perencanaan keuangan semestinya berangkat dari kondisi nyata, bukan menyalahkan individu yang dianggap kurang hemat.

Tetap Tenang Saat Pasar Saham Turun

Penurunan portofolio dalam waktu singkat wajar membuat investor cemas, tetapi keputusan sebaiknya tidak hanya bertumpu pada pergerakan hari ini. Tinjau tujuan investasi, jangka waktu, kebutuhan likuiditas, dan kemampuan menanggung risiko. Dana sekolah tahun depan, misalnya, tidak semestinya bergantung pada saham yang bisa anjlok. Investor jangka panjang perlu mengevaluasi portofolio secara terukur, bukan menjual semuanya karena panik.

Hal serupa berlaku pada investasi syariah: label syariah tidak menghilangkan risiko, sehingga pemahaman soal risiko, diversifikasi, dan likuiditas tetap diperlukan. Tawakal berarti berusaha secara layak sembari menyadari hasil akhir tidak sepenuhnya dalam kendali manusia.

Keamanan Finansial Bukan Bebas Risiko

Financial security bukan berarti kebal dari inflasi, kehilangan pekerjaan, atau gejolak pasar, melainkan memiliki persiapan dan ruang gerak untuk menghadapinya tanpa mengorbankan kebutuhan pokok, berutang tak terkendali, atau berinvestasi karena panik. Konsep hifzh al-mal dalam maqashid al-shariah menekankan menjaga harta lewat arus kas sehat, dana darurat, pengendalian utang, investasi sesuai kebutuhan, dan perencanaan masa depan keluarga.

Menjaga harta tidak berarti menimbunnya. Harta digunakan untuk memenuhi kebutuhan, menjalankan kewajiban, mendukung keluarga, dan bermanfaat bagi orang lain. Zakat ditunaikan sesuai ketentuan, dan sedekah disesuaikan dengan kemampuan.

Ketahanan finansial tidak dibangun saat keadaan sudah sulit, melainkan lewat keputusan-keputusan kecil yang diambil sebelum kesulitan datang.

MK
💬

Diskusi

Bagikan pendapat Anda
0 komentar

Lengkapi data kamu

Sekali isi untuk bisa berkomentar.

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Artikel Terkait

News Update