Jumat, 30 Okt 2026 Gaya HidupHukum & KriminalNasionalPolitikEkonomi
Breaking
Beranda › Gaya Hidup
Gaya Hidup

Kisah Keluarga di Bandung Viral, Pemdes Mekarsari Minta Penanganan Kesehatan Mental

✍️ Mita Kurniasari 🕒 27 Oct 2026 👁️ 2x dibaca
Sebuah keluarga di Kampung Sukanagara, RT 01/RW 06, Desa Mekarsari, Kecamatan Pacet, Kabupaten Bandung, Jawa Barat mengalami gangguan kejiwaan, dalam kondisi tersebut mereka merawat dua anak yang masih di bawah umur. Selasa (27/10/2026).
Sebuah keluarga di Kampung Sukanagara, RT 01/RW 06, Desa Mekarsari, Kecamatan Pacet, Kabupaten Bandung, Jawa Barat mengalami gangguan kejiwaan, dalam kondisi tersebut mereka merawat dua anak yang masih di bawah umur. Selasa (27/10/2026). Foto: Dokumen Pemerintah Desa Mekarsari

BankPedia.id - Unggahan mengenai dua anak yang tumbuh di tengah keluarga dengan sejumlah anggota yang disebut mengalami gangguan kesehatan mental viral di media sosial Instagram. Unggahan tersebut memperlihatkan kondisi rumah keluarga di Kampung Sukanagara, RT 01/RW 06, Desa Mekarsari, Kecamatan Pacet, Kabupaten Bandung, Jawa Barat, serta upaya aparat dan warga membersihkan tempat tinggal mereka.

Sekretaris Desa Mekarsari, Yasa, membenarkan bahwa keluarga yang menjadi sorotan di media sosial tersebut merupakan warganya.

"Betul itu warga Desa Mekarsari," katanya saat dikonfirmasi melalui sambungan telepon, Selasa (27/10/2026).

Menurut Yasa, keluarga tersebut menghadapi berbagai persoalan sosial dan ekonomi yang berdampak pada kondisi kehidupan mereka. Pemerintah desa bersama warga disebut telah berupaya memberikan bantuan, tetapi penanganan lebih lanjut, terutama terkait kesehatan mental dan perlindungan anak, dinilai masih diperlukan.

Persoalan Ekonomi dan Keretakan Rumah Tangga

Yasa menuturkan, persoalan keluarga ini berawal dari perubahan kondisi ekonomi dan keretakan rumah tangga orang tua Ogi Umaedi, warga asli setempat.

Dari pernikahan tersebut, Cucu Jubadah atau yang akrab disapa Ibu Cucu memiliki tiga anak, yakni Ogi Umaedi, Erna Maryana, dan Melinda Ulhusna. Ogi kemudian merantau dan menikah dengan Indah Triyanti, perempuan asal Lampung.

Menurut Yasa, data kependudukan keluarga Ogi dan Indah baru dipindahkan dari Lampung ke Desa Mekarsari sekitar empat bulan lalu. Pemindahan itu dilakukan ketika Indah sedang mengandung dan membutuhkan penanganan medis di daerah asal suaminya.

Yasa menduga kemerosotan ekonomi keluarga turut memengaruhi kondisi psikologis sejumlah anggotanya. Ia mengatakan, keluarga tersebut sebelumnya memiliki kondisi ekonomi yang lebih baik, tetapi kemudian mengalami penurunan drastis.

"Ketiga anak Ibu Cucu mentalnya tidak sehat, bukan bawaan tidak sehatnya teh. Tapi ini dari keadaan, yang awalnya si orang tuanya itu orang tua yang memang sukses, kaya lah. Tiba-tiba ekonominya drop, nah ketiga anak ini dikenal dimanjakan terus tidak pernah bersosialisasi dengan orang, tidak pernah dekat dengan tetangga. Nah, pada saat ekonominya jatuh, Ayahnya Ogi stres," ujarnya.

Yasa juga menyebut perceraian orang tua Ogi memperburuk keadaan keluarga. Menurut dia, Erna menjadi salah satu anggota keluarga yang lebih dahulu menunjukkan perubahan perilaku.

"Kemudian yang stres itu Erna, mungkin karena diperarah dengan perceraian orang tua mereka jadi berimbas ke yang lain. Erna itu, sampai telanjang kemana-mana," katanya.

Meski demikian, penyebab dan kondisi kesehatan mental setiap anggota keluarga perlu dipastikan melalui pemeriksaan tenaga kesehatan profesional.

Delapan Orang Tinggal di Rumah Berukuran 4x5 Meter

Kondisi tempat tinggal keluarga tersebut turut menjadi perhatian. Menurut Yasa, rumah berukuran sekitar 4 x 5 meter itu dihuni delapan orang sebelum kelahiran anak ketiga Ogi dan Indah.

Mereka terdiri atas Ogi dan Indah, dua anak mereka saat itu, Ibu Cucu, serta Erna dan Melinda. Setelah Indah melahirkan seorang anak perempuan, jumlah anggota keluarga bertambah menjadi sembilan orang, jika seluruh anggota yang disebutkan masih tinggal di rumah tersebut.

Yasa menggambarkan kondisi rumah sebagai tempat tinggal yang sempit dan kurang terjaga kebersihannya. Berbagai aktivitas keluarga berlangsung di ruang terbatas, sementara pakaian dan kotoran menumpuk.

"Sangat bau, makan disitu, baju disitu, baju tidak pernah disetrika, kotoran juga banyak di dalam rumahnya," kata dia.

Pemerintah desa bersama warga dan kader posyandu disebut telah beberapa kali membantu membersihkan rumah tersebut. Namun, menurut Yasa, kondisi rumah kembali tidak terawat setelah kegiatan pembersihan selesai.

"Tahun kemarin dibersihkan, tahun sekarang juga sudah dibersihkan. Tapi karena gak direhabilitasi yang kotor lagi," ungkap Yasa.

Ia menilai, bantuan kebersihan perlu disertai penanganan kesehatan dan pendampingan yang berkelanjutan agar kondisi keluarga dapat membaik.

Kondisi Anak-anak Jadi Perhatian

Yasa menyebut Ogi kerap berbicara sendiri dan menyampaikan klaim mengenai jabatan serta kedekatannya dengan sejumlah pejabat. Namun, kondisi tersebut belum dapat dipastikan sebagai gejala medis tertentu tanpa pemeriksaan profesional.

Ia juga mengatakan kondisi Indah yang sebelumnya dinilai masih dapat beraktivitas secara normal mengalami perubahan setelah tinggal di lingkungan yang menurutnya penuh tekanan dan kurang terjaga kebersihannya.

"Indah awalnya sadar, tapi karena diam di lingkungan yang seperti itu, kotor bau, dan dia diam artinya dia juga sama kena mentalnya," tutur Yasa.

Perhatian juga tertuju pada dua anak Ogi dan Indah, yakni Akbar Rizky yang duduk di kelas IV sekolah dasar (SD) dan Fahri Syahreza yang berusia lima tahun. Pada 27 Oktober 2026, Indah disebut telah melahirkan anak perempuan di Rumah Sakit Welas Asih.

Menurut Yasa, persalinan Indah dilakukan melalui operasi sesar. Pemerintah desa, katanya, telah berupaya membantu agar Indah memperoleh penanganan medis.

"Perhari ini jadi tiga karena baru lahiran di Rumah Sakit Welah Asih, kemarin sesar harus ada uang Rp 8 juta, Desa sudah siap, bahkan saya bilang kalau gak ditangani bawa BPKB motor saya sebagai jaminan," ujarnya.

Meski Indah menjalani perawatan di rumah sakit, Yasa mengatakan kedua anak mereka yang lain masih berada di rumah keluarga tersebut.

Ia mengkhawatirkan kondisi Fahri yang menurutnya jarang keluar rumah dan berinteraksi dengan anak-anak seusianya. Sebaliknya, Akbar disebut masih dapat bermain bersama teman-temannya.

"Yang mengerikan, si Fahri diam dan duduk hidup di lingkungan yang tiga orang mentalnya tidak sehat. Fahri gak pernah keluar, gak bersosial dengan anak sebayanya, kalau lihat orang nangis. Kalau Akbar masih bisa main dengan temennya. Per hari ini meskipun Indah lagi di Welas Asih, ya anggota keluaganya masih di sana di rumah yang sama," katanya.

Kondisi tersebut menyoroti pentingnya memastikan keselamatan, pemenuhan kebutuhan dasar, akses pendidikan, serta tumbuh kembang anak. Pendampingan perlu dilakukan dengan melibatkan tenaga kesehatan dan layanan perlindungan anak, tanpa memberikan stigma kepada anggota keluarga.

Pemdes Mekarsari Minta Penanganan Lintas Instansi

Yasa menyatakan Pemerintah Desa Mekarsari telah berkoordinasi dengan sejumlah pihak, termasuk aparat kewilayahan dan puskesmas, untuk memperhatikan kondisi keluarga tersebut.

Ia berharap instansi terkait dapat melakukan asesmen kesehatan dan memberikan penanganan sesuai kebutuhan setiap anggota keluarga. Yasa juga meminta agar Dinas Sosial dan pemerintah Kabupaten Bandung dilibatkan dalam upaya tersebut.

"Ini persoalan kemanusiaan saya sering bilang ke Camat, ke Pak Sekcam. Pihak Puskesmas juga sudah disampaikan. Pak Camat belum pernah ke sana ada juga Kanit Satpol PP datang tapi gak berani masuk da bau. Saya sudah minta ke pihak RW untuk memperhatikan keluarga Ibu Cucu itu. Siapapun nanti penggantinya, karena sejauh ini kami pihak Desa, Babinsa sudah memperhatikan terus. Saya sudah minta yang mentalnya terganggu segera direhabilitasi oleh Dinsos, atau Camat berkomunikasi dengan pemerintah Kabupaten Bandung. Ya, minimal harus ada yang diselamatkan," terangnya.

Yasa menegaskan, persoalan keluarga tersebut bukan semata-mata mengenai pemenuhan kebutuhan pangan. Menurutnya, warga sekitar dan pemerintah desa masih berupaya membantu sesuai kemampuan, tetapi diperlukan penanganan yang lebih menyeluruh.

"Saya melihat, bukan tetangga tidak peduli, ini bukan masalah makan, soal makan warga tetap saling bantu, meskipun seadanya. Desa pun seperti itu. Ini perlu direhabilitasi. Karena ini mentalnya udah kena dan bukan bawaan lahir. Ogi itu kalau diajak ngobrol nyambung pernah sekolah, berpendidikan, tapi akibat kondisi keluarga jadi seperti ini," kata Yasa.

Penanganan keluarga ini membutuhkan koordinasi lintas instansi, termasuk layanan kesehatan, dinas sosial, pemerintah daerah, dan layanan perlindungan anak. Pemeriksaan profesional diperlukan untuk menentukan kebutuhan masing-masing anggota keluarga, sementara kondisi anak-anak perlu mendapat perhatian segera agar keselamatan dan hak tumbuh kembang mereka tetap terlindungi.

MK
💬

Diskusi

Bagikan pendapat Anda
0 komentar

Lengkapi data kamu

Sekali isi untuk bisa berkomentar.

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Artikel Terkait

News Update