Jumat, 30 Okt 2026 Gaya HidupHukum & KriminalNasionalPolitikEkonomi
Breaking
Beranda › Gaya Hidup
Gaya Hidup

Pekerja Muda di Jakarta Pilih Ngekos Rp 2 Juta per Bulan, Ini Alasannya

✍️ Mita Kurniasari 🕒 28 Oct 2026 👁️ 2x dibaca
Ilustrasi kamar kost dengan area penyimpanan minim.
Ilustrasi kamar kost dengan area penyimpanan minim. Foto: Pexels/Hakim Santoso

BankPedia.id - Di tengah beragamnya pilihan hunian di Jakarta, kamar kos atau indekos masih menjadi pilihan bagi pekerja muda yang ingin tinggal dekat tempat kerja tanpa harus menanggung biaya besar untuk membeli rumah atau menyewa apartemen.

Bagi sebagian pekerja, kos bukan sekadar tempat untuk tidur. Kamar dengan ruang terbatas juga menjadi tempat beristirahat, bekerja, dan menjalani aktivitas sehari-hari setelah pulang dari kantor.

Bella (26), misalnya, sudah tinggal di kos sejak masa kuliah hingga memasuki dunia kerja. Selama sekitar tujuh hingga delapan tahun, ia beberapa kali berpindah tempat tinggal, tetapi tetap memilih kos karena mempertimbangkan lokasi dan biaya.

Saat ini, Bella membayar sekitar Rp 2 juta per bulan untuk kamar berukuran 3 x 3 meter di Jakarta Selatan. Kamar tersebut dilengkapi tempat tidur, lemari pakaian, meja kecil, dan kamar mandi pribadi.

“Kalau untuk sekarang, ngekos masih paling praktis. Apalagi kalau tempatnya dekat kantor, jadi tidak perlu menghabiskan banyak waktu di jalan,” ujar Bella saat dihubungi Kompas.com, Senin (26/10/2026).

Menurut Bella, membeli rumah bukan perkara mudah bagi pekerja muda yang masih harus membagi penghasilan untuk memenuhi berbagai kebutuhan.

“Pengen punya rumah sendiri, tetapi harus dihitung juga uang muka, cicilan, dan biaya lainnya. Kalau rumahnya jauh dari kantor, ongkos transportasi dan waktu perjalanan juga harus dipikirkan,” kata dia.

Bella menyadari bahwa menyewa kos berarti mengeluarkan uang setiap bulan tanpa memperoleh kepemilikan atas tempat tinggal. Namun, pilihan tersebut memberinya fleksibilitas selama kondisi keuangannya belum memungkinkan untuk membeli rumah.

Kamar yang terbatas memang memiliki kekurangan, terutama dalam hal ruang penyimpanan dan keleluasaan menerima teman. Meski demikian, selama kebutuhan dasarnya terpenuhi, kos masih menjadi pilihan yang realistis baginya.

Dekat Tempat Kerja Jadi Pertimbangan Pekerja Muda

Pengalaman serupa dialami Virda (27), pekerja swasta yang tinggal di kawasan Mampang, Jakarta Selatan. Ia membayar sekitar Rp 2 juta per bulan untuk kamar yang dilengkapi pendingin ruangan dan kamar mandi pribadi.

Virda memilih kos karena lokasinya mendukung aktivitas sehari-hari. Baginya, tempat tinggal yang dekat dengan kantor memberikan keuntungan tersendiri, terutama ketika harus menjalani rutinitas di Jakarta.

“Menurut saya, ngekos itu bukan berarti kita tidak punya tujuan untuk membeli rumah. Memang sekarang kebutuhannya masih lebih cocok ngekos,” kata Virda saat dihubungi.

Ia menilai keputusan membeli rumah tidak seharusnya didasarkan semata-mata pada usia atau keinginan mengikuti orang lain yang sudah memiliki hunian sendiri.

“Kalau mau beli rumah, harus benar-benar siap. Bukan cuma uang muka dan cicilan, tetapi juga biaya perawatan dan kebutuhan sehari-hari. Jangan sampai punya rumah, tetapi pengeluaran lainnya malah keteteran,” ujar dia.

Bagi Virda, biaya sewa kos merupakan pengeluaran untuk memenuhi kebutuhan tempat tinggal saat ini. Ia memilih mempertimbangkan pembelian rumah secara matang daripada terburu-buru mengambil cicilan jangka panjang.

Pemilik Kos Sesuaikan Harga dengan Fasilitas

Pilihan kos dengan harga dan fasilitas yang beragam menjadi salah satu pertimbangan bagi pekerja yang membutuhkan hunian di Jakarta. Lokasi, kelengkapan fasilitas, dan biaya sewa turut memengaruhi keputusan calon penghuni.

Bigal (38), pengelola enam kamar kos milik keluarganya di kawasan Cikini, Jakarta Pusat, mengatakan lokasi menjadi salah satu faktor yang diperhatikan calon penyewa.

Menurut dia, pekerja cenderung mencari tempat tinggal yang dekat dengan kantor dan mudah menjangkau berbagai kebutuhan sehari-hari.

“Lokasi memang menjadi pertimbangan. Orang biasanya mencari tempat yang memudahkan aktivitas mereka, apalagi kalau setiap hari harus bekerja,” ujar Bigal saat ditemui.

Namun, pengelolaan kos tidak hanya berkaitan dengan penyediaan kamar. Pemilik juga perlu menjaga kebersihan, memastikan fasilitas berfungsi, dan memperbaiki kerusakan agar penghuni tetap nyaman.

Bigal mengatakan biaya perawatan menjadi salah satu pengeluaran yang perlu diperhitungkan dalam menjalankan usaha kos.

Hal serupa disampaikan Ita (41), pemilik delapan kamar kos di Mampang, Jakarta Selatan. Ia menyewakan kamar tanpa pendingin ruangan mulai Rp 1,6 juta per bulan. Sementara itu, kamar dengan pendingin ruangan ditawarkan seharga Rp 2,5 juta per bulan.

“Biasanya orang menyesuaikan dengan kebutuhan dan anggaran. Ada yang mencari kamar tanpa AC, ada juga yang memang membutuhkan AC dan fasilitas lebih lengkap,” kata Ita.

Menurut dia, calon penghuni umumnya membandingkan harga dan fasilitas sebelum menentukan pilihan. Karena itu, pemilik kos perlu menjaga kondisi kamar agar tetap layak ditempati.

Di sisi lain, biaya pemeliharaan dan perbaikan fasilitas juga memengaruhi pengelolaan usaha kos. Pengeluaran tersebut menjadi salah satu pertimbangan dalam menentukan harga sewa.

Menyewa Kos Tidak Selalu Berarti Membuang Uang

Peneliti GREAT Institute, Adrian Nalendra Perwira, menilai keputusan pekerja muda untuk tinggal di kos berkaitan dengan kemampuan finansial dan keterjangkauan hunian di Jakarta.

Bagi pekerja yang belum mampu membeli rumah, menyewa kamar dapat menjadi cara untuk memenuhi kebutuhan tempat tinggal tanpa harus langsung menanggung cicilan jangka panjang.

Adrian mengatakan biaya sewa tidak bisa serta-merta dianggap sebagai uang yang terbuang hanya karena penyewa tidak memperoleh aset properti.

“Kalau melihatnya hanya dari sisi kepemilikan aset, menyewa memang tidak menghasilkan kepemilikan rumah. Namun, orang juga membayar untuk mendapatkan tempat tinggal, akses ke lokasi kerja, dan fleksibilitas,” kata Adrian saat dihubungi.

Menurut dia, perbandingan antara menyewa dan membeli rumah tidak cukup hanya dengan melihat besaran uang sewa dan cicilan bulanan. Pembelian rumah juga membutuhkan uang muka, biaya perawatan, serta pengeluaran lain yang perlu diperhitungkan sejak awal.

Sebagai ilustrasi, rumah seharga Rp 800 juta dengan uang muka 20 persen membutuhkan dana awal Rp 160 juta. Jika sisa harga pembelian dibiayai melalui kredit, calon pembeli masih harus menanggung cicilan selama bertahun-tahun.

“Yang perlu dihitung bukan hanya apakah cicilannya terlihat mampu dibayar setiap bulan, tetapi juga apakah seseorang masih punya ruang untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, menabung, dan menghadapi pengeluaran tidak terduga,” jelas Adrian.

Di sisi lain, menyewa kos juga memiliki tantangan. Biaya sewa harus terus dibayarkan, sementara penghuni tidak memperoleh kepemilikan atas kamar yang ditempati. Pengeluaran tersebut juga dapat mengurangi kemampuan pekerja untuk mengumpulkan uang muka rumah.

Sebagai gambaran, pekerja dengan penghasilan Rp 6 juta per bulan yang membayar kos Rp 2 juta harus mengalokasikan sekitar 33,3 persen dari penghasilannya untuk tempat tinggal. Jumlah itu belum termasuk biaya makan, transportasi, dan kebutuhan lainnya.

Kondisi tersebut menunjukkan bahwa keputusan memilih hunian perlu mempertimbangkan keseluruhan kondisi keuangan, bukan hanya kemampuan membayar biaya tempat tinggal setiap bulan.

Hunian Sewa Terjangkau Dibutuhkan di Jakarta

Adrian menilai persoalan keterjangkauan hunian tidak cukup diselesaikan dengan mendorong masyarakat untuk membeli rumah. Pekerja yang belum siap membeli properti juga membutuhkan pilihan tempat tinggal yang layak dengan biaya terjangkau.

“Hunian sewa yang layak dan terjangkau, terutama di lokasi yang terhubung dengan transportasi umum, juga perlu diperhitungkan dalam kebijakan perumahan,” kata dia.

Dengan pilihan hunian yang beragam, pekerja dapat menyesuaikan tempat tinggal dengan kemampuan finansial, kebutuhan sehari-hari, dan rencana jangka panjang.

Kos, apartemen sewa, maupun rumah milik memiliki kelebihan dan konsekuensi masing-masing. Bagi sebagian pekerja muda, menyewa kos dapat menjadi pilihan yang sesuai selama mereka membutuhkan fleksibilitas dan ingin menjaga pengeluaran tetap terkendali.

Pada akhirnya, keputusan membeli rumah atau menyewa tempat tinggal tidak bisa disamaratakan. Selain mempertimbangkan harga properti dan biaya sewa, pekerja juga perlu memperhitungkan lokasi, waktu perjalanan, biaya transportasi, kebutuhan hidup, serta kemampuan menyisihkan uang untuk tabungan dan kebutuhan darurat.

MK
💬

Diskusi

Bagikan pendapat Anda
0 komentar

Lengkapi data kamu

Sekali isi untuk bisa berkomentar.

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Artikel Terkait

News Update