Jumat, 30 Okt 2026 Gaya HidupHukum & KriminalNasionalPolitikEkonomi
Breaking
Beranda › Ekonomi
Ekonomi

Tren Underconsumption Core Bisa Tekan Ekonomi Indonesia, Ini Penjelasannya

✍️ Mita Kurniasari 🕒 26 Oct 2026 👁️ 4x dibaca
Ilustrasi penumpang KRL Tanah Abang-Rangkasbitung. KAI Commuter siapkan KRL 12 gerbong di rute Tanah Abang?Rangkasbitung, sehingga kapasitas penumpang bisa meningkat.
Ilustrasi penumpang KRL Tanah Abang-Rangkasbitung. KAI Commuter siapkan KRL 12 gerbong di rute Tanah Abang?Rangkasbitung, sehingga kapasitas penumpang bisa meningkat. Foto: KOMPAS.COM/ACEP NAZMUDIN

BankPedia.id - Tren gaya hidup hemat atau underconsumption core berpotensi menekan pertumbuhan ekonomi Indonesia apabila mendorong masyarakat mengurangi belanja non-esensial secara luas. Perubahan pola konsumsi ini perlu dicermati karena konsumsi rumah tangga masih menjadi salah satu penopang utama perekonomian nasional.

Guru Besar Universitas Airlangga, Rahma Gafmi, mengatakan perubahan perilaku belanja masyarakat dapat memengaruhi arah pertumbuhan ekonomi. Selama ini, konsumsi rumah tangga menyumbang sekitar 53–57 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia.

“Perubahan perilaku belanja ini tidak hanya sekadar tren gaya hidup, tetapi juga menjadi variabel penentu arah pertumbuhan ekonomi nasional,” kata Rahma kepada Kompas.com, Senin (26/10/2026).

Menurut Rahma, tren underconsumption core mendorong masyarakat menahan pembelian impulsif, mengurangi konsumsi barang tersier, serta memperpanjang masa penggunaan barang sebelum menggantinya. Di tengah ketidakpastian ekonomi global dan kenaikan harga kebutuhan pokok, pola tersebut juga dapat muncul karena rumah tangga kelas menengah semakin selektif dalam mengalokasikan pengeluaran.

Ketika masyarakat secara kolektif mengurangi belanja non-esensial atau discretionary spending, aktivitas perdagangan berpotensi melambat. Dampaknya terhadap pertumbuhan ekonomi akan semakin besar apabila penurunan konsumsi tidak diimbangi dengan peningkatan investasi atau belanja pemerintah.

“Secara makro, hal ini dapat menahan laju pertumbuhan konsumsi rumah tangga, yang pada gilirannya menantang target pertumbuhan ekonomi nasional di kisaran 5 persen jika tidak diimbangi oleh ekspansi investasi atau belanja pemerintah,” tuturnya.

Pertumbuhan ekonomi melambat pada kuartal II 2026

Data pertumbuhan ekonomi Indonesia menunjukkan perekonomian tumbuh 5,29 persen secara tahunan pada kuartal II 2026. Angka tersebut melambat dibandingkan pertumbuhan pada kuartal I 2026 yang mencapai 5,61 persen.

Pada kuartal II 2026, konsumsi rumah tangga masih tumbuh 5,06 persen dan memberikan kontribusi 53,32 persen terhadap PDB. Namun, porsinya turun dibandingkan kuartal I 2026 yang tercatat sebesar 54,36 persen.

Kondisi tersebut memperlihatkan pentingnya menjaga daya beli masyarakat agar konsumsi tetap mampu menopang aktivitas ekonomi. Meski demikian, tren hidup hemat tidak selalu berarti masyarakat berhenti membelanjakan uangnya.

Gaya hidup minimalis berbeda dengan penghematan terpaksa

Rahma menjelaskan, dana yang sebelumnya digunakan untuk membeli barang tersier dapat dialihkan ke kebutuhan pokok, tabungan pengaman atau precautionary savings, maupun pelunasan utang.

Dalam jangka panjang, perubahan alokasi tersebut dapat memperkuat kondisi keuangan rumah tangga. Namun, dalam jangka pendek, pengurangan belanja tertentu berpotensi memperlambat aktivitas sektor perdagangan.

“Secara jangka panjang, ini memperkuat fondasi keuangan rumah tangga, namun secara jangka pendek menciptakan lag atau kelesuan sesaat bagi sektor perdagangan,” ucapnya.

Karena itu, Rahma menekankan pentingnya membedakan gaya hidup hemat yang dipilih secara sadar dengan penghematan yang terpaksa dilakukan akibat tekanan ekonomi.

Kelompok pertama menerapkan intentional minimalism, yakni gaya hidup minimalis secara sadar dengan mengutamakan fungsi dan manfaat barang, menghindari pembelian berlebihan, serta mempertimbangkan nilai jangka panjang sebelum berbelanja.

Sementara itu, kelompok kedua mengalami forced retrenchment, yaitu pengurangan konsumsi karena kenaikan biaya hidup dan keterbatasan daya beli. Meski sama-sama mengurangi belanja, kedua kelompok tersebut memiliki motif dan kondisi keuangan yang berbeda.

“Meskipun kedua kelompok sama-sama mengurangi volume belanja, motif psikologis, struktur keuangan, dan pola alokasi dana mereka sangat kontras,” jelasnya.

Indikator untuk membaca tekanan daya beli

Menurut Rahma, perbedaan antara penghematan secara sadar dan penghematan akibat tekanan ekonomi dapat ditelusuri melalui sejumlah indikator keuangan dan perilaku konsumen.

Jika penghematan lebih banyak dipicu keterpaksaan, data perbankan berpotensi menunjukkan stagnasi atau penurunan simpanan pada rekening dengan nominal tertentu, misalnya di bawah Rp100 juta. Pada saat bersamaan, rasio kredit bermasalah atau Non-Performing Loan (NPL) pada segmen konsumtif juga berpotensi meningkat.

Sebaliknya, gaya hidup minimalis yang didorong kesadaran dan pertimbangan nilai dapat berkorelasi dengan peningkatan dana pihak ketiga (DPK) pada segmen prioritas maupun investasi di pasar modal.

Perubahan preferensi konsumen juga dapat diamati melalui pola pembelian barang. Penurunan pembelian produk private label atau merek toko yang umumnya lebih murah dapat menjadi salah satu petunjuk perubahan pilihan konsumen.

Sementara itu, peningkatan pembelian produk value-seeking, yakni produk dengan harga paling murah di setiap kategori, dapat mengindikasikan tekanan ekonomi yang lebih luas. Namun, indikator-indikator tersebut perlu dibaca bersama data lain untuk memahami penyebab perubahan konsumsi secara lebih akurat.

Pemerintah dan dunia usaha perlu menjaga daya beli

Rahma menilai pergeseran perilaku konsumsi, baik yang didorong kesadaran ekologis maupun kebutuhan beradaptasi dengan kenaikan biaya hidup, menghadirkan tantangan sekaligus peluang bagi perekonomian nasional.

Di satu sisi, tren hidup hemat dapat mendorong masyarakat mengelola keuangan secara lebih sehat dan mengurangi konsumsi berlebihan. Di sisi lain, pelaku usaha perlu menyesuaikan strategi dengan preferensi konsumen yang semakin mempertimbangkan harga, kualitas, dan manfaat produk.

Karena itu, kolaborasi antara pemerintah sebagai regulator dan dunia usaha sebagai penggerak pasar diperlukan untuk menjaga daya beli masyarakat, khususnya kelompok kelas menengah.

“Agar daya beli kelas menengah tetap terjaga tanpa mengorbankan stabilitas ekonomi, diperlukan kolaborasi strategis antara pemerintah sebagai regulator dan dunia usaha sebagai penggerak pasar,” pungkasnya.

MK
💬

Diskusi

Bagikan pendapat Anda
0 komentar

Lengkapi data kamu

Sekali isi untuk bisa berkomentar.

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Artikel Terkait

News Update